Difabel
Angkie Yudistia, Founder dan CEO Thisable Enterprise. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Liputan6.com, Jakarta Vaksinasi COVID-19 bagi guru dan tenaga pendidik dinilai menjadi harapan untuk dimulainya pembelajaran tatap muka meski masih secara terbatas. Termasuk bagi Sekolah Luar Biasa (SLB).

Staf Khusus Presiden Angkie Yudistia mengungkapkan bahwa selama pandemi, pembelajaran jarak jauh (PJJ) sangatlah menyulitkan para pelajar yang memiliki disabilitas.

“Karena kurikulumnya adalah kurikulum vokasi, itu mengapa kemampuan penyandang disabilitas 60 persen adalah kemampuan vokasi. Jadi tantangan besar banget saat pembelajaran jarak jauh,” kata Angkie pada Kamis (8/4/2021).

Dalam dialog virtual Komite Penanggulangan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Angkie mengatakan bahwa dimulainya pembelajaran tatap muka disambut baik oleh SLB, tentu dengan penerapan disiplin protokol kesehatan yang sangat ketat.

“Itu kenapa tenaga pendidik harus segera divaksin¬†semuanya. Karena lebih rentan kalau di Sekolah Luar Biasa,” kata Angkie. “Ketika sekolah tatap muka ini dibuka, harus dalam keadaan prima.”

Harus Tetap Disiplin Protokol Kesehatan

Simulasi Sekolah Tatap Muka dengan model Kelas Hybrid
Guru menggunakan hand sanitizer sebelum memasuki kelas saat Simulasi Persiapan Kelas Hybrid dalam Pembelajaran Jarak Jauh di SMPN 255, Jakarta, Selasa (30/3/2021). Kelas Hybrid merupakan model sekolah tatap muka secara rotasi dengan jumlah kehadiran siswa 50 persen. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Angkie pun menegaskan bahwa vaksinasi bukan cara satu-satunya untuk mencegah penyebaran COVID-19. Ia mengingatkan protokol kesehatan menjadi hal lain yang harus dipastikan sebelum memulai pembelajaran tatap muka.

“Memang vaksinasi ini bukan cara satu-satunya, tapi tetap harus dengan protokol kesehatan yang sangat ketat,” imbuh Angkie.

Senada dengan Angkie, Budi Prasodjo, Kepala Sekolah SLB/G Yayasan Dwituna Rawinala mengatakan bahwa mereka banyak menemui kesulitan selama belajar dari rumah (BDR).

“Program BDR ini bagi anak-anak disabilitas. Khususnya di SLB, ini memang mengalami banyak kesulitan untuk bisa dilakukan,” kata Budi.

Maka dari itu, selain dukungan pihak keluarga, diperlukan juga dukungan material karena “tidak semua orangtua memiliki kemampuan untuk penggunaan paket data, internet, dengan video call, maupun tugas-tugas.”

Bantuan sosial tunai juga dirasa Budi dibutuhkan bagi keluarga dengan disabilitas yang mengalami kesulitan ekonomi di masa pandemi.

“Yang penting juga dukungan spiritual untuk tetap bersyukur, berdoa, dan beribadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Mudah-mudahan itu bisa menguatkan para penyandang disabilitas.”

Sumber : Liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com