Ilustrasi disabilitas
Ilustrasi disabilitas. Foto:unsplash

Liputan6.com, Jakarta Penahanan tanpa batas waktu terus terjadi kepada para penyandang disabilitas kognitif di Australia. Penahanan ini diberikan pada mereka yang terlibat dalam kasus pidana tetapi tidak mampu untuk memahami proses persidangan dan membuat pembelaan, dikarenakan kekurangan kapasitas mental atau intelektual yang dimiliki.

Jika didapati bahwa seseorang tidak layak untuk melakukan pembelaan akibat faktor tersebut, maka mereka akan ditahan dipenjara atau unit forensik untuk pengobatan dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Hanya akan berakhir apabila orang tersebut sudah dianggap membaik, dilansir dari the conversation (23/02/2021).

BACA JUGA

Pada dasarnya, kebijakan seperti ini bergantung kepada aturan yang diberlakukan. Tidak semua negara melakukan penahanan seperti ini. Di Australia sendiri, menurut data temuan kelompok advokasi Australian for Disability Justice terdapat lebih dari 1.000 orang dengan gangguan kognitif dan/atau penyakit mental ditahan tanpa batas di Australia setiap tahun. Dari banyaknya orang itu, 30% diantaranya adalah penduduk asli Australia.

Temuan data tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh UNSW (Universitas New South Wales), penelitian ini menunjukkan bahwa penduduk asli dengan gangguan disabilitas yang merasakan penahanan di penjara Australia ini sudah terlalu banyak jumlahnya.

Kekuasaan hukum

Komite PBB untuk Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD) sudah dua kali secara resmi meminta Australia untuk mengehentikan tindak kekuasaan penahanan tidak terbatasnya. Pemberantasan rezim ini, dipimpin Skotlandia dan banyak negara Eropa mengikutinya.

Para pendukung keadilan disabilitas juga telah lama mengupayakan perubahan di Australia. Misalnya, Institut Reformasi Hukum Tasmania meninjau hukum pada negara bagian itu dan merekomendasikan untuk membatasi pemberlakuan penahanan tanpa batas.

Terlebih lagi tindakan penahanan yang dijatuhkan pada orang dengan gangguan kesehatan sepertinya sia-sisa. Walaupun ada maksud untuk dilakukan pengobatan, akantetapi tidak ada obat untuk orang dengan gangguan kognitif seperti disabilitas intelektual atau dampak dari cedera otak.

Sumber : Liputan6.com, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com