Foto: Erliana RiadyBlitar – 

Tiga penyandang disabilitas di Blitar menjadi petugas pengibar bendera. Walaupun jauh dari sempurna, namun mereka tak ingin menjadi warga negara nomor dua dalam merayakan HUT ke-75 RI.

Ketiga penyandang disabilitas ini adalah pembawa bendera seorang tuna wicara bernama Raisa. Dan di kanan didampingi seorang tuna grahita bernama Ahmad Amirul dan sebelah kiri seorang tuna netra bernama Agus. Mereka bertugas menjadi petugas pengibar bendera dalam upacara peringatan HUT ke-75 RI di Yayasan Kinasih Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar.

Karena yayasan ini memang menaungi kaum difabel, maka peserta upacara juga kaum disabilitas. Mereka semua memakai selempang selendang batik ciprat, hasil kreasi mereka sendiri. Dengan sikap berdiri tegak, mereka tampak disiplin melaksanakan upacara yang dilaksanakan agak siang ini.

Pembacaan Pancasila juga dipimpin seorang penyandang tuna grahita. Dengan lafal yang tidak begitu jelas, namun mampu secara runtut hapal dan lancar mengucapkan dan diikuti penyandang disabilitas lain sebagai peserta upacara.

Ketika petugas pengibar bendera menjalankan tugasnya, nampak Agus penyandang tunanetra harus mendapat bimbingan salah satu relawan disana. Agus mendapat aba-aba kapan berhenti melangkah, lalu menghadap kiri untuk menuju ke tiang bendera.

Dengan instingnya, Agus kemudian meraih tali untuk mengerek bendera merah putih yang diserahkan Raisa kepada Ahmad untuk dikaitkan pada tali pengerek bendera. Begitu terdengar aba-aba pengibaran Sang Saka Merah Putih, Agus perlahan-lahan menarik talinya.

Sedangkan para peserta upacara, sambil bersikap menghormat pada bendera, mereka juga ikut menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Terdengar jauh dari sempurna, namun mereka tetap berusaha mengikuti lagu yang dinyanyikan oleh para relawan lainnya.

“Semua warga negara Indonesia punya kewajiban sama dalam mengenang jasa pahlawan pendiri bangsa. Begitu juga kami para penyandang disabilitas ini. Semampu kami, kami juga harus ikut memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ini,” kata Agus kepada detikcom, Senin (17/8/2020).

Pendiri Yayasan Kinasih, Edy Cahyono mengatakan, merupakan kewajiban semua warga negara Indonesia memperingati dan mengisi kemerdekaan ini. Jika selama ini, kaum disabilitas bisa memproduksi batik ciprat, bisa mandiri secara ekonomi. Maka untuk memperingati HUT ke-75 RI pun mereka tidak mau menjadi warga nomor dua.

“Kaum disabilitas ini juga manusia. Mereka juga warga yang merdeka secara ekonomi. Jadi tidak ada warga negara nomor satu, apalagi nomor dua dalam perayaan HUT ke-75 RI. Semua sama, semua bisa mengisi kemerdekaan ini untuk kemajuan bangsa,” pungkasnya.

Rayakan kemerdekaan, tonton tayangan livestreaming Semangat Satu Indonesia di detik.com/semangatsatuindonesia

sumber :

detikNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com